Click & Check it !
Tampilkan postingan dengan label bimbingan konseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bimbingan konseling. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Oktober 2013

Identifikasi Kebutuhan dan Masalah Siswa

Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang sistematis, dimana dalam kegiatannya membutuhkan langkah yang terencana, terorganisasi, dan terkordinasi sejak dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan penilaian dan pelaporan.

Langkah perencanaan sangat menentukan bagi keberhasilan pelaksanaan pelayanan.Untuk itu dibutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan masalah, menganalisa dan kemudian menyusunnya dalam bentuk program bimbingan dan konseling, dalam bentuk program umum, program tahunan, semesteran, bulanan, mingguan sampai pada harian.



Dengan demikian program Rencana Pelaksanaan Layanan ( RPL) sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan peserta didik. Untuk mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan peserta didik bisa dilakukan dengan aplikasi instrumentasi berupa tes maupun non tes.

Instrumen tes dilakukan oleh ahlinya berupa berbagai macam tes psikologi, sedangkan yang non tes bisa berupa alat ungkap masalah ( AUM ), ITP/ATP, DCM atau angket yang disusun sendiri oleh guru BK/Konselor disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.

Salah satu jenis angket yang disusun oleh praktisi Guru BK yang tergabung dalam lembaga KES Konseling Jawa Tengah adalah IKMS ( Identifikasi Kebutuhan dan Masalah Siswa) . IKMS ini sudah dilengkapi dengan aplikasi berbasis komputer yang lebih memudahkan bagi konselor dalam mengolah hasil IKMS menjadi program tahunan sampai program bulanan. bagi yang membutuhkan bisa ambil disini

Sabtu, 28 September 2013

Tentang Rational Emotive Behavior Therapy

Manusia pada dasarnya adalah unik dan memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Sebaliknya, ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional, individu akan menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang terhadap suatu situasi/kejadian sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan irasional. Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orangtua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis: ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional Consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian dalam keluarga, kelulusan bagi siswa, dan putus hubungan merupakan contoh antecendent event bagi seseorang. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan atau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Asumsi Dasar mengenati Perilaku Bermasalah
Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. Menurut Gladding (2004), REBT berasumsi bahwa orang secara inheren adalah rasional dan irasional, masuk akal (sensible) dan gila. Dualitas ini sifatnya inheren secara biologis dan akan menjadi menetap kecuali bila dipelajari cara berpikir yang baru. Menurut Ellis (1973) anak-anak lebih rentan terhadap pengaruh luar dan pemikiran irasional dibandingkan dengan orang dewasa. Ia percaya bahwa manusia mudah dipengaruhi, sangat sugestif dan mudah terganggu. Tetapi, manusia mempunyai sarana yang berasal dari dalam dirinya sendiri untuk mengendalikan pikiran, perasaan dan tindakannya, tetapi ia harus menyadari dulu apa yang dia katakan pada dirinya sendiri (self-talk), supaya ia dapat menguasai hidupnya sendiri.
Ellis (1995) mendeskripsikan proposisi utama REBT sebagai berikut:
a. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk rasional (self-constructive) dan irasional (self-defeating). Mereka mempunyai potensi melakukan preservasi-diri, untuk berpikir, untuk kreatif, untuk berminat terhadap orang lain, belajar dari kesalahan, rnengaktualisasi potensinya untuk berkembang. Tetapi, mereka juga mempunyai kecenderungan untuk destruksi-diri, menyukai kesenangan sesaat, menghindar berpikir panjang, untuk melakukan kesalahan yang sama, untuk percaya tahayul, tidak toleran, perfeksionistik dan memikir yang besar-besar dan menghindar rnengaktualisasikan potensinya untuk berkembang.
b. Kecenderungan orang untuk berpikir irasional, kebiasaan yang merugikan diri sendiri, wishful thinking, dan tidak toleran seringkali dipertebal oleh budaya mereka dan kelompok keluarga mereka.
c. Orang mempersepsi, berpikir, merasa dan berperilaku secara simultan. Dengan demikian, pada saat yang bersamaan mereka kognitif, konatif, dan motorik. Sensasi dan tindakan dipandang dengan kerangka pengalaman, dengan memori yang terdahulu. Orang jarang melakukan tindakan tanpa mempersepsi, berpikir dan merasa, karena proses-proses ini memberikan alasan untuk bertindak. Dalam hal perilaku yang terganggu, berlaku proses yang sama, karena itu harus diubah dengan metode-metode yang sifatnya perseptual-kognitif, emotif-evokatif dan behavioristik-reedukatif.
d. Memperoleh wawasan (insight) tidak membawa kepada perubahan kepribadian yang besar. Bukan activating events (A) dalam kehidupan seseorang yang "menyebabkan" konsekuensi emosi yang disfungsional (C), tetapi fakta bahwa orang menginterpretasi peristiwa ini secara tidak realistik dan karena itu mempunyai keyakinan yang self-defeating(B) tentang hal itu. Dengan demikian, penyebab "sesungguhnya" terletak di dalam diri orang itu sendiri dan bukan apa yang terjadi pada diri mereka.
Penyebab sehingga individu tidak mampu berpikir secara rasional, adalah: (1) tidak mampu membedakan dengan jelas tentang saat ini dan yang akan datang, atau antara kenyatan dan imajinasi; (2) tunduk dan menggantungkan diri pada perencanaan dan pemikiran orang lain; (3) mengadopsi kecenderungan cara berpikir irasional dari orangtua atau masyarakat yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media.

diambil dari Modul PLPG 2012 UNM

Rancangan Kurikulum 2013 Untuk SMK

yang mau download file lengkapnya disini

Selasa, 17 September 2013

Sang Kebaikan

Percayalah kepada Sang Kebaikan. Karena Sang Kebaikan tidak akan pernah menykiti, dan tentunya Sang Kebaikan akan selalu membantu menuju kebenaran yang hakiki. Ini seperti suatu mind set yang seharusnya selalu kita tetapkan dalam pikiran alam bawah sadar kita menjadi suatu program tetap demi kehidupan kita selanjutnya.

Di kehidupan kita saat ini selalu di mungkinkan memiliki konsep berpikir yang negatif dan terburuk yang mesti kita hadapi, ini akan berakibat pula pada hal yang buruk akn terjadi pada kehidupan kita selanjutnya, dan terus berlanjut di kehidupan kita yang akan datang kelak.

Cobalah santai dan rileks sejenak serta berfikilah tentang suatu hal yang pernah kita alami, selanjutnya kita telusuri penyebab kejadian tersebut berasal dari konsep negatif fikiran kita sendiri, ya betul sekali kita pernah berfikir negatif terhadap tingkah-laku orang lain pada kita tanpa sadar ini membuat suatu sinergi negatif dengan alam dan akan memunculkan kekuatan energi negatif pula yang selalu mengikuti kita kemana saja. Dan membuat konsep fikiran kita menjadi di penuhi hal-hal yang negatif.

Untuk itu kawan mari kita ubah konsep berfikir kita, dengan selalu Percaya Kepada Sang Kebaikan. Harapannya sinergi positif alam akan kembali menjadi suatu kebaikan pada diri kita. Semoga apa yang kita fikirkan menjadi suatu kebaikan pula. Dan Percayalah Pada Sang Kebaikan selalu membantu kita menuju kebenaran yang hakiki.
Salam Hangat

Senin, 09 September 2013

Sekilas Tentang Peer Counseling

Latar belakang dan Pentingnya konselor sebaya ( peer counseling )
Peran keluarga besar yang semakin menurun terhadap kemandirian keluarga menyebabkan disparitas peran orangtua dan mahasiswa. Kesenjangan hubungan tersebut menyebabkan mahasiswa yang berada pada tahap perkembangan remaja akhir atau deasa awal lambat dalam menemukan identitas diri akibat tuntutan kedewasaan yang semakin tinggi.
Mahasiswa yang berada dalam masa transisi antara remaja akhir dan dewasa awal membutuhkan bantuan psikologis bagi individu-individu yang berkepribadian normal agar dapat berkembang secara optimal.
Mahasiswa yang kebanyakan sudah menganggap dirinya sebagai pribadi yang dewasa pun, tidak jarang menghadapi permasalahan-permasalahan hidup. Hal ini disebabkan karena pada hakekatnya, manusia hidup selalu dihadapkan pada masalah-masalah tertentu, baik itu termasuk ke dalam kategori ringan, sedang, ataupun berat.
Dalam perkembangannya, tak selamanya masalah-masalah yang datang tersebut selalu bisa diselesaikan sendirian oleh mahasiswa yang bersangkutan. Adakalanya terdapat masalah-masalah tertentu yang tidak bisa dipecahkan sendirian, melainkan membutuhkan bantuan dari orang lain untuk membantu memecahkannya.
Kelompok sebaya, bagi mahasiswa sebagai individu, penting sekali untuk membantu mahasiswa belajar menemukan identitas diri termasuk di dalamnya pemecahan masalah. Kelompok sebaya, akan membantu mahasiswa sebagai individu untuk menjadi intermediasi agar tujuan mahasiswa yang bersangkutan dapat tercapai, sehingga terjadilah suatu alur kehidupan yang positif.
Merujuk pada hal tersebut di atas, maka kedudukan konselor sebaya diharapkan mampu mengurangi tingkat stress mahasiswa baik karena tuntutan akademik maupun non akademik, sehingga mahasiswa dapat menyesuaikan diri dan memecahkan permasalahan hidupnya secara mandiri pada akhirnya.
Konselor sebaya merupakan model konseling yang mengadaptasi model pembelajaran “Tutor Sebaya”. Konselor sebaya adalah model konseling melalui optimalisasi potensi mahasiswa yang memiliki kemampuan konseling. Dalam model ini, mahasiswa yang memiliki kemampuan konseling dijadikan sumber belajar (konselor) bagi mahasiswa lain yang memiliki permasalahan-permasalahan tertentu.
Model konselor sebaya memanfaatkan peran mahasiswa untuk menjadi mitra belajar menyelesaikan masalah bagi rekan-rekan sesama mahasiswa, atau pihak lain yang hampir sama secara psikologis (sebaya).
Model ini diilhami oleh model pembelajaran co-operative learning dan collaborative learning. Melalui model konselor sebaya jarak antara mahasiswa yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan konseling (konselor), dengan masiswa yang memiliki masalah dapat didekatkan. Sehingga hambatan psikologis sosiologis yang menyebabkan masiswa tertekan dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan.
Mahasiswa yang memiliki masalah akan lebih mudah berdiskusi dan bertanya kepada teman yang berkemampuan lebih (konselor). Model ini juga dapat menghindari kefrustrasian mahasiswa yang menyukai tantangan (bagi mahasiswa yang akan berperan sebagai konselor), karena mahasiswa tersebut mendapat tantangan yang lebih banyak untuk membantu teman lainnya yang kurang mampu memecahkan masalahnya sendirian. Dia merasa mendapatkan kepercayaan dan perhatian sehingga merasa lebih diberdayakan. Perasaan semacam ini diharapkan dapat memacu dan menumbuhkan semangat untuk berprestasi yang lebih baik, sehingga muncul konselor-konselor sebaya yang berkompeten.
Namun demikian, dalam praktiknya tentu saja mahasiswa yang mendapatkan label sebagai konselor sebaya, haruslah mengetahui terlebih dahulu hal-hal pokok yang perlu dilakukan dalam konseling. Mengingat, bahwa apa yang terjadi dalam konseling tidak semuanya sama seperti hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan berbagi cerita atau curhat dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jelas dapat di akses pada Sumbernya disini

Konseling Humanistik

Konseling humanistik berakar dari aliran pemikiran humanistik dalam psikologi. Pemikiran humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul tahun 1950an sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis. Aliran ini secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis. Permasalah ini dirangkum dalam lima postulat Psikologi Humanistik dari James Bugental (1964), sebagai berikut:
a. Manusia tidak bisa direduksi menjadi komponen-komponen.
b. Manusia memiliki konteks yang unik di dalam dirinya.
c. Kesadaran manusia menyertakan kesadaran akan diri dalam konteks orang lain.
d. Manusia mempunyai pilihan-pilihan dan tanggung jawab.
e. Manusia bersifat intensional, mereka mencari makna, nilai, dan memiliki kreativitas.
Pendekatan humanistik ini mempunyai akar pada pemikiran eksistensialisme dengan tokoh-tokohnya seperti Kierkegard, Nierkegaard, Nietzsche, Heidegger, dan Sartre. Konseling humanistik seringpula disebut konseling berpusat pada pribadi dikembangkan oleh Carl Rogers. Konseling ini memfokuskan perhatian pada potensi individu untuk secara aktif memilih dan membuat keputusan tentang hal-hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri dan lingkungannya.
Para konselor yang memakai Konseling berpusat pada pribadi membantu konseli untuk meningkatkan pemahaman diri melalui mengalami perasaan-perasaan mereka. Pendekatan konseling ini memandang manusia sebagai individu yang unik. Manusia merupakan seseorang yang ada, sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya, menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. Manusia tidak pernah statis, ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda, oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri.
Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. Konseling humanistik berpandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik Karakteristik manusia adalah positif, ingin berkembang kearah yang lebih baik, konstruktif, realistik, and trustworthy (Rogers, 1980). Setiap pribadi adalah orang yang sadar, terarah dari dalam (inner directed) dan bergerak ke arah aktualisasi diri. Menurut Rogers, aktualisasi diri adalah dorongan yang paling menonjol dan memotivasi eksistensi dan mencakup tindakan yang mempengaruhi keseluruhan kepribadian.

Konseling Behavioristik

Terapi behavioral yang modern tidak mempunyai asumsi deterministik tentang manusia yang menganggap manusia hanya sebagai produk dari kondisioning sosiokultural (Corey, 2005). Individu adalah hasil produksi dan juga yang memproduksi lingkungannya. Modifikasi perilaku bertujuan meningkatkan keterampilan individu sehingga mereka mempunya lebih banyak pilihan dalam memilih suatu perilaku.
Bagi para ahli modifikasi perilaku, penting untuk menemukan bukti empirik dan dukungan ilmiah bagi teknik yang mereka pakai. Beberapa ahli yang menyikapi pembelajaran sosial-kognitif menekankan bahwa orang memperoleh pengetahuan dan perilaku baru dengan cara mengamati orang lain dan berbagai macam kejadian tanpa mereka sendiri harus melakukan perilaku tersebut dan tanpa konsekuensi langsung kepada diri mereka (misalnya modeling).
Tipe belajar ini tidak memerlukan partisipasi aktif. Berikut dikemukakan berapa konsep kunci yang mendasari pemikiran konseling behavioristik, yaitu:
a. Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar.
b. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.
c. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.
d. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar: (a) pembiasaan klasik, (b) pembiasaan operan, dan (c) peniruan.
e. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya.
f. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku.
g. Karakteristik konseling behavioral adalah: (1) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik, (2) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling, (3) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah konseli, dan (4) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling.

Sabtu, 07 September 2013

Metalearning

Metalearning: Applications to Data Mining (Cognitive Technologies)Metalearning dalam pendidikan
Awalnya dijelaskan oleh Donald B. Maudsley (1979) sebagai "proses dimana peserta didik menjadi sadar dan semakin mengendalikan kebiasaan persepsi, penyelidikan, pembelajaran, dan pertumbuhan bahwa mereka telah diinternalisasi". Maudsely set konsep dasar teorinya sebagai disintesis di bawah judul asumsi, struktur, proses perubahan, dan fasilitasi. Lima prinsip yang dinyatakan untuk memfasilitasi meta-pembelajaran. Peserta didik harus: (a) teori, namun primitif, (b) bekerja dalam lingkungan sosial dan fisik yang aman mendukung; (c) menemukan aturan mereka dan asumsi; (d) kembali dengan realitas-informasi dari lingkungan, dan (e ) menata diri dengan mengubah aturan mereka / asumsi.

Ide metalearning kemudian digunakan oleh John Biggs (1985) untuk menggambarkan keadaan 'menjadi sadar dan mengambil kendali belajar sendiri'. Anda dapat menentukan metalearning sebagai kesadaran dan pemahaman tentang fenomena belajar itu sendiri sebagai lawan subjek pengetahuan. Tersirat dalam definisi ini adalah persepsi pelajar dari konteks pembelajaran, yang mencakup mengetahui apa harapan disiplin adalah dan, lebih sempit, tuntutan tugas belajar yang diberikan. Dalam konteks ini, tergantung pada konsepsi metalearning pelajar pembelajaran, keyakinan epistemologis, proses pembelajaran dan keterampilan akademik, dirangkum di sini sebagai pendekatan pembelajaran. Seorang siswa yang memiliki tingkat kesadaran yang tinggi metalearning mampu menilai efektivitasnya pendekatan belajar dan mengatur sesuai dengan tuntutan tugas belajar. Sebaliknya, siswa yang rendah dalam kesadaran metalearning tidak akan mampu merefleksikannya pendekatan belajar atau sifat set tugas belajar. Akibatnya, ia akan mampu beradaptasi berhasil ketika belajar menjadi lebih sulit dan menuntut. (Norton et al. 2004) (Norton et al. 2004)

Meta model pembelajaran bagi tim dan hubungan
Meta belajar adalah proses dinamis dimana sebuah sistem (hubungan, tim atau organisasi) berhasil melarutkan dinamika membatasi seperti attractor titik dan siklus batas yang menghambat aksi yang efektif dan berkembang dinamika membebaskan dan kreatif diwakili oleh attractor kompleks yang lintasan dalam ruang fase, dengan tidak pernah mengulangi diri mereka sendiri, dapat menggambarkan proses kreatif dan inovatif (lihat complexor ). Lintasan ini memiliki sifat fraktal, maka urutan kompleks mereka di mana proses yang sangat kreatif mungkin. Tim kinerja tinggi dapat "meta belajar" dan ini membedakan mereka dari ketidakmampuan tim kinerja rendah untuk mengatasi membatasi perilaku mereka yang menghambat inovasi dan kreativitas (Losada, 1999; Losada & Heaphy, 2004; Fredrickson & Losada, 2005).

Model pembelajaran meta berasal dari ribuan data time series yang dihasilkan pada dua laboratorium interaksi manusia di Ann Arbor, Michigan, dan Cambridge, Massachusetts. Seri ini digambarkan dinamika waktu interaksi tim bisnis melakukan tugas-tugas bisnis yang khas seperti perencanaan strategis. Tim-tim ini diklasifikasikan menjadi tiga kategori melakukan: tinggi, sedang dan rendah. Kinerja dievaluasi oleh tim profitabilitas, tingkat kepuasan klien mereka, dan 360 derajat evaluasi.


Model pembelajaran terdiri dari variabel meta negara tiga dan satu parameter kontrol. Parameter kontrol adalah konektivitas dan mencerminkan tingkat attunement dan responsif bahwa anggota tim memiliki satu sama lain. Tiga variabel negara adalah penyelidikan-advokasi, positif-negatif, dan lain-diri (eksternal internal fokus). Variabel negara dihubungkan oleh satu set persamaan diferensial nonlinear (Losada, 1999; Fredrickson & Losada, 2005; untuk sebuah representasi grafis model meta belajar melihat Losada & Heaphy, 2004). Ketika connectiviy rendah, ada dominan orientasi advokasi dan diri (fokus internal) dan negatif lebih dari positif. Bila konektivitas tinggi ada keseimbangan dinamis antara penyelidikan dan advokasi serta fokus internal dan eksternal dan rasio positif-negatif untuk-setidaknya 2,9. Rasio ini dikenal sebagai garis Losada , karena memisahkan yang tinggi dari tim kinerja rendah serta berkembang dari languisning pada individu dan hubungan (Fredrickson & Losada, 2005; Waugh & Fredrickson, 2006; Fredrickson, 2009).

Modul PLPG 2013 Bimbingan Konseling

Sesuai kebijakan BPSDMP-PMP materi PLPG tahun 2013, disediakan dalam bentuksoft copy yang dapat diunduh sebelum pelaksanaan PLPG dilaksanakan. Hal ini tentunya akan sangat menguntungkan bagi peserta PLPG, karena akan membantu mempelajari materi sebelum disampaikan oleh paraassesor. Keuntungan lainnya adalah para peserta PLPG akan lebih fokus menyiapkan pendalaman materi yang sudah dipelajari sebelumnya.
Materi ini juga sangat baik dibaca oleh semua para guru BK dan Konselor sekolah juga pihak-pihak lainya yang peduli terhadap aktualisasi peran bimbingan konseling di sekolah, karena dalam modul ini selain dipaparkan teori-teori bimbingan, juga diberikan contoh-conmtoh praktis penerapan bimbingan konseling di sekolah. Termasuk didalamnya contoh program kerja BK, baik program tahunan, semesteran, silabus, rpp dll, juga contoh-contoh instrumensi non tes.
Ini sangat bermanfaat bagi anda yang akan berangkat mengikuti PLPG tahun ini dan juga bermanfaat bagi guru BK untuk pengembangan profesinya. Anda dapat mendownload modul ini disini
Dan tentunya untuk modul mata pelajaran lainnya juga bisa di download disumber aslinya disini
semoga bermanfaat

Sekilas Tentang MBTI ( Myer Briggs Type Indicator )

MBTI atau Myer Briggs Type Indicator merupakan sebuah alat tes kepribadian yang dikembangkan oleh Katrine Cook Briggs dan putrinya yang bernama Isabel Briggs Myer berdasarkan teori kepribadian dari Carl Gustav Jung.
Dalam MBTI merujuk pada 4 skala kecenderungan yang saling berlawanan ( dikotomis ). Walaupun berlawanan sebetulnya kita memiliki kesemua dimensi tersebut, hanya saja kita lebih nyaman pada salah satu arah dimensi tertentu. Berikut 4 skala kecenderungan MBTI :

  1. Ekstrovert ( E ) vs Intrivert ( I ) dimensi EI melihat orientasi energi kita keluar atau kedalam.
  2. Sensing ( S ) vs Intuition ( N ) dimensi SN melihat bagaimana individu memproses data yang di terima.
  3. Thinking ( T ) vs Feeling ( F ) dimensi ketiga ini melihat bagaimana seseorang mengambil suatu keputusan.
  4. Judging ( J ) vs Perceiving ( P ) dimensi terakhir melihat derajat flesibelitas seseorang
Tes MBTI sangat bermanfaat diantaranya :

  1. Bimbingan Konseling
MBTI  sangat berguna untuk dunia pendidikan dan pengembangan karir, dapat digunakan sebagai rujukan untuk penentuan penjurusan di dunia pendidikan sesuai dengan kepribadiaannya.
   
    2. Pengembanga Diri

Dengan MBTI kita bisa memahami kelebihan ( strength ) diri kita sekaligus kelemahan ( weakness ) yang ada pada diri sendiri, sehingga kita bisa lebih fokus mengembangkan kelebihan sekaligus mencari cara memperbaiki sisi negatif kita.

   3. Memahami Orang Lain dengan lebih baik

MBTI membantu memperbaiki hubungan dan cara pandang kita terhadap orang lain. Kita bisa lebih memahami dan menerima perbedaan.

Itulah sekilas tentang MBTI ( Myer Briggs Type Indicator ) semoga bermanfaat.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More